Showing posts with label Hujan Matahari. Show all posts
Showing posts with label Hujan Matahari. Show all posts

Tuesday, May 7, 2013

Dari Hujan kepada Matahari #Part3

Kudapati kedua tanganku masih tertelungkup diatas meja makan dengan kepalaku bersandar diatasnya. Rupanya aku tertidur. Kulihat hari sudah pagi. Aku memandang keluar jendela. Mendung. Titik-titik air bekas hujan tadi malam belum juga hilang. Hujan pagi ini masih saja menyisakan rintik gerimis kecil. Bak sebuah pertanda, sayup-sayup kudengar suara deru mobil Panji. Hendak pergi kemana dia?
Aku bergegas keluar rumah. Tidak kulihat ada Hana disana. Barangkali dia masih tidur. Terlalu pagi memang untuk bangun pada jam begini di hari Minggu. Panji sendiri masih memanaskan mesin mobilnya. Bersiap akan pergi ke suatu tempat.
“Aku ikut.” kataku. “Terserah kau ijinkan atau tidak.” Aku pun melompat naik ke dalam mobil dan menempatkan diriku duduk di jok depan, disebelahnya. Diapun tampak tak keberatan.
Sepanjang perjalanan Panji hanya diam. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ku urungkan niatku untuk bertanya padanya mengenai kertas berisi alamat yang datang bersama surat-suratku kemarin malam. “Akan ada banyak waktu untuk bertanya padanya nanti.” pikirku.
***
Mobil Panji kemudian berhenti pada pelataran sebuah makam. Ia memarkirkan mobilnya disana.
 
“Untuk apa kita kesini?” tanyaku cemas.
Tidak menjawab, Panji lantas melepaskan ikatan sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil.
Aku mulai berdebar-debar. Firasatku buruk. Apa yang terjadi?
Aku memang tidak pernah menyukai tempat ini. Siapa yang suka? Aku benci dengan segala bentuk perpisahan. Apalagi kematian. Tempat ini tak gubahnya seperti tempat yang akan memaksamu menjadi orang yang ditinggalkan, bukan meninggalkan. Akan terus menghantuimu dalam bentuk kenangan tentang orang-orang yang kau cintai.

Aku memaksakan kakiku melangkah keluar dari mobil. Kulihat Panji sudah jauh masuk ke dalam. Aku ragu. Terjebak pada pilihan antara menemaninya masuk atau menunggunya saja disini.
 
Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti jejak-jejak kaki Panji yang tercetak diatas tanah becek bekas diguyur hujan. Aku mengkhawatirkannya. Aku khawatir hujan masih menjadi peringatan bagi Panji akan kedatangan hari-hari terburuknya. Dan saat itu terjadi aku ingin berada disana. Di sisinya.
Semakin masuk kedalam, semakin jelas kulihat ia tengah terpekur didepan sebuah makam yang sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku. Dari balik jaket kulitnya, ia mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dan meletakkannya diatas gundukan tanah merah dihadapannya.
 
Kudekati ia perlahan-lahan. Ada semacam guratan sedih yang nampak jelas kutangkap dari wajahnya. Kubaca dengan hati-hati tiap deretan huruf-huruf kecil yang tertulis diatas nisannya. Tertulis nama Kanadia disana.
Namaku.


 
*”Bunga mawar putih” melambangkan cinta rahasia dan diam, kesungguhan dalam permohonan maaf, perwujudan rasa simpati dan penghormatan untuk mengenang mendiang seseorang yang dikasihi, serta dapat melambangkan awal yang baru atau sebagai tanda perpisahan.

Saturday, May 4, 2013

Dari Hujan kepada Matahari #Part2


Suatu sore aku duduk sendirian di sebuah bangku yang terletak di taman kota. Kau mengagetkanku dengan sebuah pelukan. Tidak tahu kau datang darimana. Kau sudah seperti hantu. Muncul dengan tiba-tiba, lalu hilang sekelebat. Namun masih saja membayangi. Aku bahkan masih mengharapkan ucapan selamat ulang tahun darimu. Sial! Padahal aku tahu betul pelukan itu bukan untuk menyelamatiku. Jika bisa, aku memang berharap untuk tidak tahu saja.
“Namanya Hana. Aku akan menikahinya bulan depan, Di. Kau datang ya?”
***
Sepanjang hari itu aku hanya duduk menghadap keluar jendela kamarku. Memandangi hujan turun. Apa yang kau ucapkan padaku kemarin sore memenuhi hampir seluruh isi kepalaku. Panji, aku merasa seperti terjebak diantara kata-kata. Tidak tahu sekarang hendak menulis apa lagi. Kata-kata ini, bagaimana aku harus merangkainya? Harus kumulai dari mana? Disini? Disana? Atau malah ditengah, diantara keduanya? Lalu bagaimana dengan akhirnya? Harus kuakhiri dengan cara yang bagaimana? Ada satu kata yang agaknya terlambat tercipta, ‘kita’. Kutemukan saat coba menyatukan kata ‘aku’ dan ‘kau’. Tapi kata itu tertambat disana. Cukup lama. Haruskah kuberi jeda dengan koma? Atau bagaimana jika kuakhiri saja dengan titik? Bagaimanapun hal ini masih menyisakan tanda tanya. Barangkali aku, kau, atau kita tidak akan bisa menjawab.
*** 
Aku memang tidak berhak atas apapun darimu. Tidak bisa menyalahkanmu atas luka yang menjangkiti seluruh hati dan pikiranku. Tidak juga bisa menyalahkan rasa yang kini terus tumbuh. Kusalahkan diamku, ketakutanku, ketidakjujuranku dan, hujan. Entah kenapa aku merasa seperti hujan. Hanya ada di saat-saat terburukmu.

Kalau benar cinta itu butuh pengakuan, bukan aku tidak mau mengakui. Aku hanya takut kau tidak menyukainya. Lalu kedekatan ini buyar selamanya.

Kini sudah ku tetapkan pilihanku. Akan kutempatkan tanda titik di antara kata ‘aku’ dan ‘kau’. Akan kubawa rasa ini pergi menjauh. Bagaimanapun luka ini harus pulih.
 
NB: Maaf aku tidak bisa datang bulan depan.
***
Panji, bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tidak menulis surat untukmu. Tiga tahun kita tidak bertemu. Aku memang sempat membubuhkan tanda titik untuk mengakhiri kisah ini. Namun nyatanya hal itu tidak merubah apapun. Lukaku bahkan belum pulih. Sudah kuanggap sebagai bagian dari diriku.
Diam-diam aku menyesali keputusanku meninggalkanmu. Mengingkari kenyataan yang ada. Menghilang tanpa mengabarkan apa-apa. Kurasa tidak adil bagimu. Setidaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal, bukan? 

Aku merindukanmu. Kalau kau bagaimana? Kuharap kau baik-baik saja.
 
***
“Itu yang Dia tulis dalam surat terakhirnya.” Panji berujar lirih.
“Jadi, maksudmu...perempuan ini menyukaimu?” sergah istrinya.
 
Ada kegamangan luar biasa yang menyelimuti kami bertiga di ruangan itu. Kulihat Panji hanya mengusap-usap wajahnya. Aku hampir saja ingin mengaku. Tidak lagi ingin berlari. Sudah terlambat bagiku untuk menyangkal. Bagaimanapun, kami semua yang ada disini tahu, aku yang menulisnya. Tapi aku perempuan, sama halnya dengan istrinya. Tegakah aku?
 Itulah yang membuat surat-suratku tertahan begitu lama. Aku tidak punya keberanian untuk mengirimkannya pada Panji. Aku takut keberadaan surat-suratku nanti hanya akan melukainya. Melukai hati istrinya, dan tentu saja pernikahannya. Maka jadilah surat-surat itu sebagai pelampiasan. Sebagai teman bicara.
Ada perasaan bersalah saat surat-surat itu sampai kemari. Sudah lama sekali surat-surat itu tersuruk di laci meja kamarku. Aku bahkan sudah ingin membuangnya. Entah bagaimana surat itu bisa ada di meja ini sekarang, bersamaku sebagai penulisnya.
 
“Kau bahkan tidak pernah menceritakannya padaku.”
“Andai aku tahu, Han.”
“Kalau kau tahu, apa kau menyesal?”
Aku tercekat. Kulihat Panji pun sama. Tidak menyangka istrinya akan mengatakan hal seperti itu. Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Sedikit memejamkan mata. Bersiap untuk menerima apapun yang akan Panji katakan.
Ia pun melepas kacamatanya. Berusaha mengatur nafas. “Semua yang terjadi pada diri kita sekarang sudah digariskan. Kalian bukan pilihan yang bisa aku pilih. Masing-masing memiliki tempat dan arti sendiri bagiku.”
Aku tersenyum getir. Andai aku adalah Hana.
“Kalian sama-sama pentingnya buatku. Tapi sekarang...kaulah masa depanku, Han.”
Hampir terdengar seperti sebuah tamparan bagiku. Aku merasa tersudut dan kalah. Tapi apa lagi yang bisa kuharapkan? Kuremas jariku berulang-ulang. Berusaha kembali pada kenyataan dimana aku duduk sekarang. Perempuan cantik berjilbab yang ada dihadapanku saat ini adalah istrinya. Masa depan Panji.

Kupaksakan senyumku. Ada sebentuk kekakuan disana. Ahh, actingku memang payah. Aku berusaha mencari pegangan atas semua yang terjadi malam ini. Berusaha agar tidak jatuh. Ya, satu-satunya hal terbaik yang aku dapatkan adalah; paling tidak Panji sudah tahu. Meski aku harus membiarkannya tahu dengan cara seperti ini.


Hana mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku bajunya. “Ini datang bersama surat-surat itu tadi siang.” ia pun menyerahkannya pada Panji.

Panji memakai kembali kacamatanya. Mengernyitkan kening sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya. Menatap istrinya dengan pandangan tak percaya. Aku yang berada di sebelahnya ikut bertanya-tanya. Sepintas kulirik tulisan yang ada disana; sebuah alamat. Alamat siapa itu? Bukan alamat rumahku atau kontrakan lamaku. Lantas kenapa datang bersama surat-suratku? Aku tidak ingat pernah menulisnya.

“Pergilah besok pagi.” katanya lagi. “Belum terlambat untuk mengucapkan selamat tinggal.”

Aku tidak mengerti.

Hana beranjak dari kursinya. Meninggalkan kami berdua, dan...hujan.


“Betapa hujan selalu mengingatkan aku padamu. Tidak sekalipun hujan turun tanpa aku memikirkanmu, Di.” ucapnya lirih. 

Tangisku pecah saat itu juga. Beradu dengan suara hujan di luar sana. Aku tidak lagi ingin mengatakan apa-apa. Aku berhutang banyak pada hujan. Dengan caranya, dia selalu berhasil membawaku kembali pada Panji. Menemani untuk melewati saat-saat terburuknya, sekali lagi.

To be continued...

Saturday, April 20, 2013

Dari Hujan kepada Matahari #Part1



Hari itu sekitar jam sebelas malam. Di sebuah ruang makan kami bertiga duduk berhadapan. Sementara tangannya gemetar melipat surat terakhir dari sekian banyak surat usang yang istrinya temukan di depan pintu rumah mereka sore tadi. Wajahnya kian jatuh, tertunduk menahan isak. Namun ia laki-laki, ia tak ingin menangis di depan istrinya. Sementara istrinya menatapnya serius dengan setumpuk pertanyaan tentang surat-surat yang kami tidak pernah tahu darimana datangnya.
Akupun yang semenjak tadi duduk disampingnya ikut tertunduk. Tidak berani membuat gerakan sekecil apapun, bahkan hanya untuk menarik nafas panjang.
“Siapa Dia?” suara istrinya memecah remang suara rintik hujan yang semenjak sore tadi belum juga reda.
“Seseorang yang aku kenal di masa lalu.” Suaranya masih saja tertahan. Aku bahkan sebenarnya tidak yakin pada apa yang sedang ia pertahankan.

*** 
Sudah seminggu ini aku memperhatikanmu. Tidak sedetikpun rela kehilanganmu dari pandangan. Jujur saja, ada desir hangat dalam dadaku setiap kali menatapmu. Kau begitu terang seperti matahari. Begitu terangnya hingga kadang-kadang cahayamu yang berpendar itu menyilaukanku. Membuatku tidak bisa dekat-dekat lama denganmu. Membuatku hanya bisa melihatmu dari jauh. Barangkali aku hanya takut cahaya terangmu itu kelak akan menyakitiku. Sama seperti yang sebelum-sebelumnya.
***
Tahukah kau, aku terjebak begitu lama dalam kehidupan masa laluku. Saat dimana senyummu itu ditujukan hanya untukku. Meski sempat menghilang nyatanya aku tidak benar-benar pergi. Ada sesuatu yang menahanku untuk tetap tinggal.

Tidak banyak yang tahu memang siapa aku. Seolah aku dilahirkan sebagai penyendiri. Tidak pernah terlihat duduk semeja dengan seorang teman. Selalu memilih tempat duduk paling belakang. Paling ujung. Sendiri.

Begitulah, sudah lama sekali sejak waktu itu. Aku tidak pernah lagi merasa untuk bisa akrab dengan seseorang. Aku nyaris hampir tidak bisa percaya jika sebuah hubungan, apapun itu murni tanpa pengkhianatan. Bukan, bukan karena aku pernah dikhinati. Tapi justru akulah yang mengkhianati. Pernah pada suatu malam kutinggalkan ia yang menungguku di masa lalu hanya untuk menemui seorang yang lain. Orang yang tidak benar-benar punya cinta untukku. Dan memang benar, pada akhirnya aku ditinggalkan oleh keduanya. Menyisakan sebongkah penyesalan yang tidak putus-putus.
***
Masih ingatkah kau bagaimana kita bertemu? Di pelataran sebuah toko yang terletak di ujung jalan tidak jauh dari kampusmu, kau dan aku sama-sama berlindung dari hujan. Hanya ada kau dan aku. Kau mengoceh betapa kau sangat membenci hujan. Kau bilang hujan selalu datang di saat-saat terburukmu. Seperti waktu itu, kau baru saja putus dari pacarmu. Kau diselingkuhi. Aku mendengarkan. Tidak tahu harus mengatakan apa.
***
Hari kedua hujan turun lagi. Kau dan aku masih berteduh di tempat yang sama. Hari itu berbeda. Kau tidak banyak bicara. Bahkan sama sekali.
“Masih benci hujan?” kuberanikan diri untuk bertanya.
Keheranan, kau menoleh ke arahku. Matamu bertemu dengan mataku. Kau lantas tersenyum. Masih tidak mengatakan apa-apa.
“Aku punya banyak waktu.” kataku lagi. “Aku tahu tempat minum kopi yang enak di dekat sini. Mungkin bisa sedikit membantumu melupakan hujan.”
“Darimana kau tahu aku suka minum kopi?”

Aku lantas mengulum senyum. Percayalah, aku tahu semua tentangmu, Panji.
***


Sejak itu kau dan aku sering bertemu disana. Menghabiskan waktu dari pagi hingga sore dengan bercerita tentang apa saja. Seperti wangi melati dari secangkir teh yang kuhirup, aku menikmati setiap jengkal pertemuan-pertemuanku denganmu. Kubiarkan kau lebih banyak bercerita. Karena aku tahu kau hanya butuh satu; didengar.
***
Pagi itu langit mendung. Tampakknya kau tak perduli. Kau mengajakku berkeliling. Barangkali benar kau sudah bosan dengan hanya duduk-duduk sembari menyeruput kopi yang seperti itu-itu saja. Kau kemudian mengajakku ke tempat dimana kau biasa bermain basket di dekat kompleks perumahan tempat tinggalmu.
Ya, kau memang begitu menggilai permainan basket seperti aku menggilaimu. Dari salah satu sudut lapangan, dapat kulihat dengan jelas sinarmu yang berkedip mengkilat sempurna. Mengharuskanku memicingkan sebelah mata setiap kali ingin menatapmu. Agaknya sekarang aku yang tak perduli jika pagi itu langit sedang kelabu. Langitku pun mendadak berubah oranye. Kau yang melukisnya.
***
Hari itu tanggal 15 Juli. Hari ulang tahunku. Aku sudah menyiapkan kue ulang tahun yang kubuat sendiri semalaman di rumah kontrakan tempatku tinggal. Kontrakan itu kecil. Hanya punya satu ruang tamu yang sempit. Telah kuhias dengan balon-balon warna-warni di setiap sudutnya. Aku ingin merayakannya berdua denganmu. Kuharap kau ingat hari ini. Kau sudah berjanji akan menghadiahkanku sesuatu yang manis. Lengkap dengan pita warna oranye diatasnya seperti kesukaanku. Aku juga merias wajahku. Memakai bedak dan lipstick. Mengatur rambut panjangku agar tampak rapi. Menanggalkan semua pakaian berwarna kelabu yang biasa kukenakan. Untuk hari ini, aku ingin terlihat sepertimu. Seperti pantulan sinar matahari dalam balutan gaun warna kuning oranye.
Namun kau tak pernah muncul. Membuatku menunggu hingga pagi. Tak juga ada kabar darimu yang bisa menjelaskan.
***
Hari-hariku berikutnya dipenuhi mendung tanpa mataharimu. Aku tak lagi ingin berteduh di depan toko tempat pertama kali kita bertemu saat hujan turun. Aku lebih suka menikmati hujan dan merasakan setiap titik-titiknya jatuh.
Aku melintas di depan kedai kopi dimana kita biasa bertemu. Rintik-rintik hujan tak lagi bisa kurasakan. Sesuatu seperti menghantamku. Cukup keras. Untuk sesaat aku merasa limbung. Tapi mataku dengan jelas menangkap bayanganmu berada disana. Duduk dengan seorang perempuan yang aku tidak tahu siapa.

Entahlah, aku merasa bodoh dan buruk mengharapkanmu sejauh ini.



To be continued...

Friday, December 7, 2012

Membunuh Matahari




Aku mulai menyukai dia, Matahari.

Bukan karena kecermelangan cahayanya. Justru cahayanya yang berpendar itu seringkali menyakiti mataku. Membuatku harus memicingkan sebelah mata tiap kali ingin menatapnya. Namun aku menikmati setiap prosesnya. Proses yang kusebut 'mencintai'. Dan, ya, aku mulai jatuh cinta pada Matahari, hingga muncul seorang yang lain diantara kami; Pagi.

Sudah jadi kodrat masing-masing bahwa Pagi selalu datang lebih dulu. Dia bertugas mengawali hari dan menjemput Matahari. Seperti jodoh yang ditakdirkan, begitulah kisah Matahari dan Pagi dimulai. Kemudian mereka pun saling jatuh cinta.

Aku yang merasa dicampakkan oleh Matahari merasa tidak pernah lebih buruk dari ini. Bermodal sebentuk keyakinan berkelap-kelip; dengan catatan sebentar nyala sebentar mati, dengan sabar aku menunggu Matahari kembali pulang denganku. Dia sudah cukup jauh tersesat kukira.

Satu jam, tiga jam, tujuh jam aku masih menunggu dengan sabar. Dan dengan sisa-sisa kesabaran yang kupunya, aku merasa Matahari sudah pergi sedemikian tinggi.

Hingga sampailah aku di ujung hari. Cahayanya yang berpendar itu kini tidak lagi bisa kurasakan menerpa wajahku. Kurasakan pipiku mulai basah. Bukan, bukan karena menangis. Barangkali kesabaranku telah melampaui batas hingga aku tidak lagi ingin menangis. Tampaknya hujan mulai turun.

Diantara curah rintik hujan aku menatap langit. Tidak kulihat ada Matahari disana. Langit pun berubah kelabu. Lagipula sekarang bukan lagi Pagi hari. Pagi sudah pergi. Jadi kemana Pagi pergi? Apakan Pagi membawa pergi Matahari? Lalu kemana mereka pergi?

Segala pertanyaan bermunculan meracuni hati dan pikiranku. Membuatku mengutuk diri sendiri yang tidak terlahir sebagai Pagi yang dicintai Matahari. Membuatku diam-diam ingin membunuh Matahari. Membuat tidak seorangpun dari kami, aku atau Pagi yang akan memiliki Matahari.

Dengan sebilah pisau tergenggam di tangan dan diantara titik-titik kecil hujan, kususuri setiap jalan mengikuti jejak-jejak Matahari. Hati dan pikiranku sudah diselimuti oleh kabut. Membuatnya tidak lagi benar-benar jernih. Pun gemuruh amarah dalam diri sudah tidak dapat reda terhapus hujan sehari.

Kebencian telak menguasaiku.

Hari itu berkabut. Langit masih tertutup awan mendung. Matahari pasti bersembunyi di balik gumpalan awan-awan kelabu. Aku kemudian mempercepat langkahku. Kutebas satu persatu awan yang menghalangi dengan sebilah pisau yang kugenggam. Bagaimanapun akan kutemukan Matahari. Hidupnya harus berakhir di tanganku.

Tidak butuh waktu lama. Cahayanya yang berpendar itu samar-samar mulai terlihat menembus celah-celah awan yang tertebas olehku. Terendap-endah aku mengintip melalui celah-celah kecil yang ada disana. Memastikan bahwa itu benar cahaya Matahari.

Seperti ditikam dengan ujung kilatan ekor-ekor petir, aku melihat Matahari dan Pagi sedang bercumbu. Hatiku nanar bukan main. Hanya dengan sekali tebas kuakhiri hidup sang Matahari. Darahnya mengucur begitu derasnya. Membasahi hampir seluruh tubuhku. Pagi yang ketakutan menatapku dengan pandangan tak percaya. Matanya mengiba memohon belas kasih. Memohon agar tidak dibunuh juga. Lalu kubiarkan dia pergi. Kubiarkan dia menderita hidup tanpa Matahari.

Darahnya yang sedemikian banyak itu membuat langit berubah kemerahan. Awan-awan hitam sudah pergi. Kini hariku telah tiba. Kodratku sebagai sore telah kujalani. Telah kutenggelamkan Matahari. Mengantarnya sampai akhir. Membiarkan sisa-sisa jasadnya lenyap ditelan Malam.

Thursday, November 22, 2012

Mimpi tentang Hujan



Aku tanya, pernahkah kamu memimpikan seseorang yang tidak kamu kenal? Berhari-hari? Apakah itu normal? Aku pernah. Aku ingat setiap kepingan mimpi-mimpinya. Tertata rapi, runtun membentuk suatu rangkaian alur cerita.

***

Sebut saja hujan. Aku ingat pernah bertemu sekali dengannya di masa lalu. Hanya bertemu. Tidak pernah kami berbincang sebelumnya. Hanya sesekali bertemu pandang.

Kemudian, lama aku tidak bertemu hujan. Tentu aku sudah lupa sekarang. Tidak pernah sekalipun aku memikirkannya. Bah, siapa yang perduli tentang hujan? Toh, kami tidak saling kenal.

Hidupku dipenuhi apapun selain hujan sejak itu. Sebut saja Kemarau, Semi, Gugur, Dingin dan Salju adalah sahabat-sahabatku. Mengisi hari-hariku, menemani sepi-sepiku. Memenuhi pikiranku.

Hingga hujan kembali. Bau hujan membuatku ngantuk. Aku terlelap dan aku merasa aneh. Aku memaksa terjaga. Rupanya aku mimpi. Mimpi tentang hujan.

***

Mimpi di hari pertama; aku ingat saat itu sore hari. Bersama sahabat-sahabatku, Kemarau, Semi, Gugur, Dingin dan Salju, aku sedang bermain. Lalu aku melihat seseorang dari kejauhan. Dia hanya muncul begitu saja. Tidak menjauh, tidak juga mendekat. “Hujan...”, bisikku.

***

Mimpi di hari kedua; aku ingat saat itu sore hari. Aku berjalan di atas tanah penuh genangan air. Becek dimana-mana. Seseorang membimbingku. Menggenggam tanganku. Namun, aku tidak bisa melihat wajahnya. Dia berjalan memunggungiku. Tunggu, sepertinya aku tahu siapa. “Ini, bau hujan...”, bisikku.

***

Mimpi di hari ketiga; aku ingat saat itu masih sore hari. Aku berjalan di tengah keramaian. Aku berjalan berlawanan arah seorang diri. Tidak tahu hendak kemana. Lalu aku melihat buket-buket bunga mawar terpampang di ujung jalan sana. Ketika ku dekati, aku ingin mengambil setangkai. Namun, tak satupun dapat ku ambil tangkai dengan kelopak yang utuh.
Aku hampir putus asa saat seseorang datang membawa setangkai bunga mawar kuning. Hmm...kuhirup nafas dalam-dalam. “Bau ini...”. Bukan, bukan bau wangi bunga mawar. Tapi ini adalah... “Bau...Hujan!”
Dan mawar kuning itu dia berikan padaku, “Untukkmu.”

***

Mimpi di hari keempat; aku ingat saat itu masih sore hari. Dan aku masih menggenggam mawar kuning-ku. Kami duduk berdampingan memandang langit. Tiba-tiba dia mengulurkan tangan, “Kita belum pernah kenalan. Sebut saja aku, Hujan.”
Aku menyambut tangannya malu-malu, “Aku...sebut saja aku sore.”
Dia lantas tersenyum. Senyumnya untukku.

***

Mimpi di hari kelima: aku ingat saat itu tetap sore hari. Kami berjalan bergandengan tangan. Hujan membawaku ke sebuah tempat. Tempat dimana mendung, petir dan pelangi berkumpul. Tempat yang dia sebut rumah.
“Kelak jika kau mencariku, kau akan menemukanku disini. Aku tidak akan kemana-mana.” Begitu ucapnya padaku. Dia lantas tersenyum. Senyumnya untukku.

***

Mimpi di hari keenam: aku ingat saat itu langit sudah hampir petang. Sudah tidak ada tempat lagi bagi sore jika malam sudah datang menggantikan. Tapi aku sore yang nakal ingin bertemu Hujan walau petang sudah datang. Malam yang geram berlari mengejar dan hendak menangkapku. Seperti biasa dia akan mengadukanku pada ibu.
Aku berlari dan berlari. Berharap akan menemukan jalan menuju rumah Hujan. Tapi aku tersesat. Tidak tahu berada dimana. Sementara Malam semakin dekat. Aku bersembunyi dibalik gunung. Aku menangis disana. Berharap Malam tidak akan menemukanku. Berharap Hujan akan menemukanku.

***

Pada hari ketujuh, kedelapan, kesembilan dan seterusnya aku berhenti memimpikan Hujan.

***

Bermimpi memang mudah. Hanya perlu memejamkan mata untuk sampai kesana. Namun, akan menjadi sulit jika disanalah satu-satunya Ruang Temu bagiku untuk bertemu.

~Fin~
Dari Sore untuk Hujan