Ada yang tidak biasa pagi ini. Padahal hujan masih saja turun seperti hari-hari kemarin. Aroma teh yang diseduh dari arah dapur juga tercium masih di jam 6 pagi disertai dengan obrolan kecil Ibu-Bapak tentang berita surat kabar terbitan hari ini.
Namun, beberapa hal yang kupikirkan sejak lama telah mengerucut mencapai klimaksnya.
Entah bagaimana, di suatu pagi di bulan Agustus sekitar dua tahun lalu aku mulai memikirkan kamu.
Memikirkan bagaimana agar kamu mau melihat ke arahku.
Pernah suatu kali aku memutuskan untuk berhenti. Namun kamu selalu punya alasan agar aku kembali. Berulang kali mencoba berhenti, lalu dibuat kembali lagi.
Berhenti lagi dan masih saja mau kembali.
Satu hal yang aku terlambat tahu (atau barangkali memang aku yang tak mau tahu); aku tidak pernah menjadi yang kamu pilih. Dengan aku sebagai opsi terakhir, kamu hanya datang ketika yang lain pergi.
Masih jam 6 pagi.
Setelah menyesap habis teh dalam cangkirku, terdengar suara mesin kendaraan mulai memasuki pekarangan rumah. Kuabaikan nasi goreng buatan Ibu di atas meja dan bergegas menuju pintu. "Jemputanku sudah datang", gumamku dalam hati.
Kau boleh anggap aku bodoh karena tidak tahu kapan harus berhenti. Tapi sekali-kali cobalah menyukai seseorang. Kau akan tahu bahwa perbuatan melawan cinta itu sia-sia.
Namun, sayangku...semua cuma soal waktu. Kau boleh membiarkan kembang-kembang itu mekar dalam hatimu. Toh, pada akhirnya akan gugur juga diterbangkan waktu. Lalu berganti dengan kuncup-kuncup baru.
Jadi kurasa, aku akan berdamai dengan waktu. Mengumpulkan keberanian untuk melepaskan tanpa berupaya menghalangi yang memang harus pergi dan membuka pintu bagi yang menunggu dengan senang hati.
Lalu aku bersiap membuka pintu dan memutar knopnya, "Oi, selamat pagi!"
Wednesday, January 18, 2017
Sunday, April 10, 2016
Clueless
Dengan enggan ak memeriksa kembali layar
ponselku. Memastikan benar kata-kata menyakitkan yang kau kirim beberapa menit
lalu itu nyata. Butuh waktu bagiku untuk kembali sadar setelah sempat limbung
selama sepersekian detik.
"Semoga kamu bahagia dan didekatkan dengan jodohnya..."
Aku meraba-raba kemana arah pembicaraan ini. Teringat akan kejadian beberapa waktu lalu. Entah hari itu hari apa. Setelah menerima aksi ngambekmu yang tidak biasa karena kepergianku yang mendadak selama sebulan ke Denpasar, rupanya benar-benar membuat frustasi.
Lagipula aku ke Depansar bukan tanpa alasan. Kaupun tau benar alasannya. Aku juga ingin pulang seandainya bisa. Kemudian entah bagaimana kau lalu menolak untuk diajak bicara.
Tak perduli sekeras apapun aku mencoba untuk membuatmu bicara, yang ada hanya aku yang lelah sendiri karena mencoba masuk kedalam tembok-tembok penolakan yang kau bangun terlalu tinggi. Membuatku ingin menangis sampai geram. Memantul-pukul rasanya.
Hari-hariku selanjutnya tinggal di Denpasar terasa tidak menyenangkan. Meski sekeras apapun aku mencoba menjauhkan segala pikiran-pikiran tentang kamu, tetap saja diammu yang menyebalkan itu memenuhi hampir setiap ruang dalam kepalaku. Membuat kota ini, (setidaknya bagiku) menjadi hanya-seluas-kotak-kecil-sel-penjara berukuran 3x4, dan aku terkurung di dalamnya. Di dalam pikiran-pikiran tentang kamu.
Lalu kau muncul dalam pesan yang tiba-tiba. Masih clueless dengan pertanyaan yang entah apa aku sendiri pun bisa menjawabnya; jadi, benarkah jarak bisa menyesatkan seseorang sebegitu jauhnya?
"Semoga kamu bahagia dan didekatkan dengan jodohnya..."
Aku meraba-raba kemana arah pembicaraan ini. Teringat akan kejadian beberapa waktu lalu. Entah hari itu hari apa. Setelah menerima aksi ngambekmu yang tidak biasa karena kepergianku yang mendadak selama sebulan ke Denpasar, rupanya benar-benar membuat frustasi.
Lagipula aku ke Depansar bukan tanpa alasan. Kaupun tau benar alasannya. Aku juga ingin pulang seandainya bisa. Kemudian entah bagaimana kau lalu menolak untuk diajak bicara.
Tak perduli sekeras apapun aku mencoba untuk membuatmu bicara, yang ada hanya aku yang lelah sendiri karena mencoba masuk kedalam tembok-tembok penolakan yang kau bangun terlalu tinggi. Membuatku ingin menangis sampai geram. Memantul-pukul rasanya.
Hari-hariku selanjutnya tinggal di Denpasar terasa tidak menyenangkan. Meski sekeras apapun aku mencoba menjauhkan segala pikiran-pikiran tentang kamu, tetap saja diammu yang menyebalkan itu memenuhi hampir setiap ruang dalam kepalaku. Membuat kota ini, (setidaknya bagiku) menjadi hanya-seluas-kotak-kecil-sel-penjara berukuran 3x4, dan aku terkurung di dalamnya. Di dalam pikiran-pikiran tentang kamu.
Lalu kau muncul dalam pesan yang tiba-tiba. Masih clueless dengan pertanyaan yang entah apa aku sendiri pun bisa menjawabnya; jadi, benarkah jarak bisa menyesatkan seseorang sebegitu jauhnya?
Wednesday, January 20, 2016
Menulislah dengan Hati
Pernah suatu kali dengan congkaknya aku menyebut diriku sebagai pencerita.
Aku biasa menuliskan hal-hal yang muncul dalam kepalaku untuk dikembangkan menjadi sebuah alur.
Sebagian besar memang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.
Maksudku, ini benar-benar pernah kualami meski kadang aku suka menambahkan detail-detail kecil, tidak masuk akal didalamnya.
Semua kulakukan demi memenuhi peranku sebagai pencerita, bahwa menulis itu sebenarnya bebas. Seperti angin dan lautan.
Jadi kupikir sah-sah saja jika aku ingin menuliskan dalam ceritaku bahwa gajah itu sebenernya tuli, berhidung pendek dan berwarna jingga menyala.
Hingga tiba saatnya aku seperti dihempas belasan gulung ombak. Tidak terlalu besar, memang. Namun cukup menghanyutkan.
Wujudnya ada dalam kepalaku.
Terapung-apung lalu menyumbat tepat di sela lobang-lobang rongganya.
Membuatku tidak lagi bisa memikirkan gajah tuli berhidung pendek dengan warna jingganya yang menyala.
Ketika itu, aku tidak lagi selepas lautan.
Aku memikirkan diriku sebagai bulir air yang terperangkap dalam toples selai.
Tidak lagi dapat memuaskan diri sendiri.
Tulisanku seperti kehilangan nyawanya. Seperti Zombie. Hidup, tapi mati.
Sebagian besar menjadi sangat melankolis.
Mirip drama-drama picisan murahan.
Lalu aku memejamkan mataku.
Mencoba kembali menyelami dasar paling dalam kepalaku.
Berusaha menemukan apa yang salah. Siapa tahu bisa kucari cara memperbaikinya.
Dan diantara lekukan kerumitannya, (aku memang tidak pernah bisa memikirkan sesuatu dengan sederhana) kutemukan setumpuk memori.
Bentuknya seperti arsip yang tidak rapih.
Penuh coretan disana-sini. Namun, ditulis dengan tinta merah hati.
Cukup jadi mesin waktu paling canggih.
Bahwa aku (mungkin) pernah punya hati sedalam ini.
Malang, Januari 2016
Aku biasa menuliskan hal-hal yang muncul dalam kepalaku untuk dikembangkan menjadi sebuah alur.
Sebagian besar memang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi.
Maksudku, ini benar-benar pernah kualami meski kadang aku suka menambahkan detail-detail kecil, tidak masuk akal didalamnya.
Semua kulakukan demi memenuhi peranku sebagai pencerita, bahwa menulis itu sebenarnya bebas. Seperti angin dan lautan.
Jadi kupikir sah-sah saja jika aku ingin menuliskan dalam ceritaku bahwa gajah itu sebenernya tuli, berhidung pendek dan berwarna jingga menyala.
Hingga tiba saatnya aku seperti dihempas belasan gulung ombak. Tidak terlalu besar, memang. Namun cukup menghanyutkan.
Wujudnya ada dalam kepalaku.
Terapung-apung lalu menyumbat tepat di sela lobang-lobang rongganya.
Membuatku tidak lagi bisa memikirkan gajah tuli berhidung pendek dengan warna jingganya yang menyala.
Ketika itu, aku tidak lagi selepas lautan.
Aku memikirkan diriku sebagai bulir air yang terperangkap dalam toples selai.
Tidak lagi dapat memuaskan diri sendiri.
Tulisanku seperti kehilangan nyawanya. Seperti Zombie. Hidup, tapi mati.
Sebagian besar menjadi sangat melankolis.
Mirip drama-drama picisan murahan.
Lalu aku memejamkan mataku.
Mencoba kembali menyelami dasar paling dalam kepalaku.
Berusaha menemukan apa yang salah. Siapa tahu bisa kucari cara memperbaikinya.
Dan diantara lekukan kerumitannya, (aku memang tidak pernah bisa memikirkan sesuatu dengan sederhana) kutemukan setumpuk memori.
Bentuknya seperti arsip yang tidak rapih.
Penuh coretan disana-sini. Namun, ditulis dengan tinta merah hati.
Cukup jadi mesin waktu paling canggih.
Bahwa aku (mungkin) pernah punya hati sedalam ini.
Bahwa untuk menuliskan hal-hal baik, tidak saja pakai otak. Tapi juga hati.-- Indah
Malang, Januari 2016
Tulisan Pertama di Tahun Baru
Rasanya sudah lama sekali tidak menulis.
Terakhir menulis sepertinya November tahun lalu.
Giliran ingin menulis sesuatu malah tidak tahu harus menulis apa.
Sepertinya saya memang harus punya note kecil yang bisa dibawa kemana-mana.
Agar setiap momen dapat terekam dengan baik, meski cuma lewat kata-kata.
Agar tidak begitu saja menguap di kepala.
Sidoarjo, Januari 2016.
Terakhir menulis sepertinya November tahun lalu.
Giliran ingin menulis sesuatu malah tidak tahu harus menulis apa.
Sepertinya saya memang harus punya note kecil yang bisa dibawa kemana-mana.
Agar setiap momen dapat terekam dengan baik, meski cuma lewat kata-kata.
Agar tidak begitu saja menguap di kepala.
Sidoarjo, Januari 2016.
Monday, November 30, 2015
Buntu
Kenapa harus aku yang jatuh cinta padamu berkali-kali?
I ever loved you once. It continues.
And I wish you knew...
Ada banyak pertanyaan tentang kamu.
Tentang siapa kamu?
Berapa usiamu?
Warna favorite-mu?
Bagaimana dengan buku favorite-mu?
Masih ingin jadi penulis?
Masih suka main gitar?
Lagu apa yang kau suka?
Kalau kopi?
Makanan kesukaanmu?
Lelah tidak setelah pulang bekerja sore ini?
Kenapa diam saja dalam kepalaku?
Lantas, bagaimana aku bisa jatuh cinta?
Padahal aku tidak tahu apa-apa tentang kamu.
Aku tidak tahu.
Aku buntu.
Mungkin aku butuh kamu.
Wednesday, August 20, 2014
Ketika Tiba Musimnya Jatuh Cinta
| gambar dari google |
Halo, apa kabar tuan
yang pada hari minggu lalu duduk berhadapan denganku?
Bulan ini bulan Agustus.
Sepertinya sudah tiba musimnya jatuh cinta. Tidakkah tuan ingin jatuh cinta
lagi? Sejak pertama bertemu tuan, nona merasa begitu jatuh cinta.
***
Matahari baru saja tenggelam. Sepanjang
jalan tampak kerlip lampu mengedip-ngedip lucu. Di sebuah cafe, aku menunggumu
di salah satu sudut ruangan. Bosan.
Teh pesananku sudah habis ku
sesap sambil sesekali memeriksa layar ponselku. Menunggu kabar darimu.
Namun tak ada kabar.
Memasuki cangkir yang kedua. Aku gelisah
sepanjang waktu. Berulang kali melongok keluar jendela. Berharap kamu cepat
datang. Teh dalam cangkirku hampir dingin.
Jangan-jangan kamu sengaja ingin
membuatku menunggu. Huh!
“Bip...bip." rupanya ponselku berbunyi.
Dengan gugup kuperiksa kembali
layar ponselku. Isinya sebuah pesan singkat, “Tunggu, ya. Lagi di jalan.”
Aku memucat. Mendadak tanganku
berubah dingin. Bukankah ini yang sejak tadi aku tunggu? Dan...ya Tuhan! Seperti
apa rupaku sekarang? Apakah rambutku berantakan? Bagaimana dengan maskara-ku? Kuharap sih, tidak luntur.
Tiba-tiba aku merasa ngeri membayangkan
pertemuanku denganmu. Akan seperti apa rasanya berbagi meja ini denganmu? Seperti
apa rasanya bertatap muka denganmu, melihat jelas warna bola matamu atau bentuk
hidungmu?
Dan...senyum-mu, semoga saja tidak
sampai membuatku sakit gigi.
Lalu kamu datang dari arah pintu.
Tersenyum dan menujuku.
Saturday, July 19, 2014
Rindu
Halo. Sudah hampir setahun saya berhenti menulis dan menyapa blog ini. Kalau saja blog ini adalah kekasih, sudah pasti dia akan merasa seperti seorang kekasih yang dicampakkan.
Tapi tidak. Saya bukan tipe kekasih macam itu. Hanya saja setahun yang lalu saya harus fokus pada kegiatan akademis saya.
Ketika hari kelulusan tiba, saya merasa siap untuk kembali. Tapi saya sempat kehilangan inspirasi. Tidak tahu harus menulis apa.
Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang teman baru yang tulisan-tulisannya mencengangkan. Padahal usianya jauh lebih muda. Kalian bisa melihatnya tulisannya disini. Saya seperti ditampar. Saya merasa malu. Saya menyesal sudah berhenti.
Kini saya rindu menulis lagi. Saya rindu kekasih saya. Dan saya siap jatuh cinta lagi.
Salam sayang, Nona.
Tapi tidak. Saya bukan tipe kekasih macam itu. Hanya saja setahun yang lalu saya harus fokus pada kegiatan akademis saya.
Ketika hari kelulusan tiba, saya merasa siap untuk kembali. Tapi saya sempat kehilangan inspirasi. Tidak tahu harus menulis apa.
Sampai akhirnya saya bertemu dengan seorang teman baru yang tulisan-tulisannya mencengangkan. Padahal usianya jauh lebih muda. Kalian bisa melihatnya tulisannya disini. Saya seperti ditampar. Saya merasa malu. Saya menyesal sudah berhenti.
Kini saya rindu menulis lagi. Saya rindu kekasih saya. Dan saya siap jatuh cinta lagi.
Salam sayang, Nona.
Saturday, June 1, 2013
Angin
Keesokan harinya ketika Nona terbangun,
Nona sadar bahwa memang sudah jadi kodrat Tuan Angin untuk terus berlari.
Kepakan-kepakan sayap Tuan hanya sebentuk udara
lalu hilang sekelebat.
Nona sadar bahwa memang sudah jadi kodrat Tuan Angin untuk terus berlari.
Kepakan-kepakan sayap Tuan hanya sebentuk udara
lalu hilang sekelebat.
Malang, 2013
Tuesday, May 7, 2013
Dari Hujan kepada Matahari #Part3
Kudapati kedua tanganku masih tertelungkup
diatas meja makan dengan kepalaku bersandar diatasnya. Rupanya aku tertidur.
Kulihat hari sudah pagi. Aku memandang keluar jendela. Mendung. Titik-titik air
bekas hujan tadi malam belum juga hilang. Hujan pagi ini masih saja menyisakan
rintik gerimis kecil. Bak sebuah pertanda, sayup-sayup kudengar suara deru
mobil Panji. Hendak pergi kemana dia?
Aku
bergegas keluar rumah. Tidak kulihat ada Hana disana. Barangkali dia masih
tidur. Terlalu pagi memang untuk bangun pada jam begini di hari Minggu. Panji sendiri
masih memanaskan mesin mobilnya. Bersiap akan pergi ke suatu tempat.
“Aku ikut.” kataku. “Terserah kau
ijinkan atau tidak.” Aku pun melompat naik ke dalam mobil dan menempatkan
diriku duduk di jok depan, disebelahnya. Diapun tampak tak keberatan.
Sepanjang perjalanan Panji hanya
diam. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ku urungkan niatku untuk
bertanya padanya mengenai kertas berisi alamat yang datang bersama surat-suratku
kemarin malam. “Akan ada banyak waktu untuk bertanya padanya nanti.” pikirku.
***
Mobil Panji kemudian berhenti pada
pelataran sebuah makam. Ia memarkirkan mobilnya disana.
“Untuk apa kita kesini?” tanyaku
cemas.
Tidak menjawab, Panji lantas
melepaskan ikatan sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil.
Aku mulai berdebar-debar. Firasatku
buruk. Apa yang
terjadi?
Aku memang tidak pernah menyukai tempat ini. Siapa yang suka? Aku
benci dengan segala bentuk perpisahan. Apalagi kematian. Tempat ini tak
gubahnya seperti tempat yang akan memaksamu menjadi orang yang ditinggalkan,
bukan meninggalkan. Akan terus menghantuimu dalam bentuk kenangan tentang
orang-orang yang kau cintai.
Aku memaksakan kakiku melangkah keluar dari mobil. Kulihat Panji
sudah jauh masuk ke dalam. Aku ragu. Terjebak pada pilihan antara menemaninya
masuk atau menunggunya saja disini.
Akhirnya kuputuskan untuk mengikuti jejak-jejak
kaki Panji yang tercetak diatas tanah becek bekas diguyur hujan. Aku mengkhawatirkannya. Aku khawatir hujan
masih menjadi peringatan bagi Panji akan kedatangan hari-hari terburuknya. Dan
saat itu terjadi aku ingin berada disana. Di sisinya.
Semakin masuk kedalam, semakin jelas kulihat ia tengah terpekur didepan
sebuah makam yang sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku. Dari balik jaket
kulitnya, ia mengeluarkan setangkai bunga mawar putih dan meletakkannya diatas
gundukan tanah merah dihadapannya.
Kudekati
ia perlahan-lahan. Ada
semacam guratan sedih yang nampak jelas kutangkap dari wajahnya. Kubaca
dengan hati-hati tiap deretan huruf-huruf kecil yang tertulis diatas
nisannya. Tertulis nama Kanadia disana.
*”Bunga mawar putih” melambangkan
cinta rahasia dan diam, kesungguhan dalam permohonan maaf, perwujudan rasa
simpati dan penghormatan untuk mengenang mendiang seseorang yang dikasihi,
serta dapat melambangkan awal yang baru atau sebagai tanda perpisahan.
Saturday, May 4, 2013
Dari Hujan kepada Matahari #Part2
Suatu
sore aku duduk sendirian di sebuah bangku yang terletak di taman kota. Kau mengagetkanku
dengan sebuah pelukan. Tidak tahu kau datang darimana. Kau sudah seperti hantu.
Muncul dengan tiba-tiba, lalu hilang sekelebat. Namun masih saja membayangi. Aku
bahkan masih mengharapkan ucapan selamat ulang tahun darimu. Sial! Padahal aku tahu betul pelukan itu
bukan untuk menyelamatiku. Jika bisa, aku memang berharap untuk tidak tahu saja.
“Namanya Hana. Aku akan menikahinya
bulan depan, Di. Kau datang ya?”
***
Sepanjang hari itu aku hanya duduk
menghadap keluar jendela kamarku. Memandangi hujan turun. Apa yang kau ucapkan
padaku kemarin sore memenuhi hampir seluruh isi kepalaku. Panji, aku merasa
seperti terjebak diantara kata-kata. Tidak tahu sekarang hendak menulis apa
lagi. Kata-kata ini, bagaimana aku harus merangkainya? Harus kumulai dari mana?
Disini? Disana? Atau malah ditengah, diantara keduanya? Lalu bagaimana dengan
akhirnya? Harus kuakhiri dengan cara yang bagaimana? Ada satu kata yang agaknya
terlambat tercipta, ‘kita’. Kutemukan saat coba menyatukan kata ‘aku’ dan
‘kau’. Tapi kata itu tertambat disana. Cukup lama. Haruskah kuberi jeda dengan
koma? Atau bagaimana jika kuakhiri saja dengan titik? Bagaimanapun hal ini
masih menyisakan tanda tanya. Barangkali aku, kau, atau kita tidak akan bisa
menjawab.
***
Aku memang tidak berhak atas apapun darimu. Tidak bisa menyalahkanmu
atas luka yang menjangkiti seluruh hati dan pikiranku. Tidak juga bisa
menyalahkan rasa yang kini terus tumbuh. Kusalahkan diamku, ketakutanku,
ketidakjujuranku dan, hujan. Entah
kenapa aku merasa seperti hujan. Hanya ada di saat-saat terburukmu.
Kalau benar cinta itu butuh pengakuan, bukan aku tidak mau mengakui. Aku hanya takut kau tidak menyukainya. Lalu kedekatan ini buyar selamanya.
Kini sudah ku tetapkan pilihanku. Akan kutempatkan tanda titik di
antara kata ‘aku’ dan ‘kau’. Akan kubawa rasa ini pergi menjauh. Bagaimanapun
luka ini harus pulih.
NB: Maaf aku tidak bisa datang bulan
depan.
***
Panji, bagaimana kabarmu? Sudah lama
aku tidak menulis surat untukmu. Tiga tahun kita tidak bertemu. Aku memang
sempat membubuhkan tanda titik untuk mengakhiri kisah ini. Namun nyatanya hal
itu tidak merubah apapun. Lukaku bahkan belum pulih. Sudah kuanggap sebagai bagian
dari diriku.
Diam-diam aku menyesali keputusanku meninggalkanmu. Mengingkari
kenyataan yang ada. Menghilang tanpa mengabarkan apa-apa. Kurasa tidak adil
bagimu. Setidaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal, bukan?
Aku merindukanmu. Kalau kau bagaimana? Kuharap kau baik-baik saja.
***
“Itu yang Dia tulis dalam surat terakhirnya.” Panji berujar lirih.
“Jadi, maksudmu...perempuan ini menyukaimu?” sergah istrinya.
Ada kegamangan luar biasa yang
menyelimuti kami bertiga di ruangan itu. Kulihat Panji hanya mengusap-usap
wajahnya. Aku hampir saja ingin mengaku. Tidak lagi ingin berlari. Sudah
terlambat bagiku untuk menyangkal. Bagaimanapun, kami semua yang ada disini
tahu, aku yang menulisnya. Tapi aku
perempuan, sama halnya dengan istrinya. Tegakah aku?
Itulah yang membuat surat-suratku
tertahan begitu lama. Aku tidak punya keberanian untuk mengirimkannya pada
Panji. Aku takut keberadaan surat-suratku nanti hanya akan melukainya. Melukai
hati istrinya, dan tentu saja pernikahannya. Maka jadilah surat-surat itu
sebagai pelampiasan. Sebagai teman bicara.
Ada perasaan bersalah saat surat-surat itu sampai kemari. Sudah
lama sekali surat-surat itu tersuruk di laci meja kamarku. Aku bahkan sudah ingin
membuangnya. Entah bagaimana surat itu bisa ada di meja ini sekarang, bersamaku
sebagai penulisnya.
“Kau bahkan tidak pernah menceritakannya
padaku.”
“Andai aku tahu, Han.”
“Kalau kau tahu, apa kau menyesal?”
Aku tercekat. Kulihat Panji pun
sama. Tidak menyangka istrinya akan mengatakan hal seperti itu. Aku mengatupkan
bibirku rapat-rapat. Sedikit memejamkan mata. Bersiap untuk menerima apapun
yang akan Panji katakan.
Ia pun melepas kacamatanya. Berusaha
mengatur nafas. “Semua yang terjadi pada diri kita sekarang sudah digariskan.
Kalian bukan pilihan yang bisa aku pilih. Masing-masing memiliki tempat dan
arti sendiri bagiku.”
Aku tersenyum getir. Andai aku adalah Hana.
“Kalian sama-sama pentingnya buatku.
Tapi sekarang...kaulah masa depanku, Han.”
Hampir terdengar seperti sebuah
tamparan bagiku. Aku merasa tersudut dan kalah. Tapi apa lagi yang bisa
kuharapkan? Kuremas jariku berulang-ulang. Berusaha kembali pada kenyataan
dimana aku duduk sekarang. Perempuan cantik berjilbab yang ada dihadapanku saat
ini adalah istrinya. Masa depan Panji.
Kupaksakan senyumku. Ada sebentuk kekakuan disana. Ahh, actingku memang payah. Aku berusaha
mencari pegangan atas semua yang terjadi malam ini. Berusaha agar tidak jatuh.
Ya, satu-satunya hal terbaik yang aku dapatkan adalah; paling tidak Panji sudah tahu. Meski aku harus membiarkannya tahu
dengan cara seperti ini.
Hana mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku bajunya. “Ini datang
bersama surat-surat itu tadi siang.” ia pun menyerahkannya pada Panji.
Panji memakai kembali kacamatanya. Mengernyitkan kening sambil
sesekali membetulkan letak kacamatanya. Menatap istrinya dengan pandangan tak
percaya. Aku yang berada di sebelahnya ikut bertanya-tanya. Sepintas kulirik
tulisan yang ada disana; sebuah alamat. Alamat
siapa itu? Bukan alamat rumahku atau kontrakan lamaku. Lantas kenapa datang
bersama surat-suratku? Aku tidak ingat pernah menulisnya.
“Pergilah besok pagi.” katanya lagi. “Belum terlambat untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Aku tidak mengerti.
Hana beranjak dari kursinya. Meninggalkan kami berdua, dan...hujan.
“Betapa hujan selalu mengingatkan aku padamu. Tidak sekalipun
hujan turun tanpa aku memikirkanmu, Di.”
ucapnya lirih.
Tangisku pecah saat itu juga. Beradu dengan suara hujan di luar
sana. Aku tidak lagi ingin mengatakan apa-apa. Aku berhutang banyak pada hujan.
Dengan caranya, dia selalu berhasil membawaku kembali pada Panji. Menemani
untuk melewati saat-saat terburuknya, sekali lagi.
To be continued...
Sunday, April 21, 2013
#DaKu (Dari Aku untuk Kamu) Project - Tidak ada Judul
Anggap aku gila karena pernah
memimpikannya. Jauh sebelum ini...
Kusebut dia Hujan, karena aku bertemu dengannya hanya pada hari hujan turun. Lagipula
ada bagian dari dalam dirinya yang kupikir menyeyukkan. Persis seperti
butir-butir hujan.
Dia bukan seorang yang istimewa. Hanya
lelaki biasa seperti yang lain. Tapi dia cukup pintar bergelayut pada sel-sel
memori otakku. Memenuhi kekosongan pada setiap celahnya. Membuatku hampir tidak
lagi bisa memikirkan yang lain. Kurasa benar jika aku menyukainya. Dan jangan
tanyakan padaku bagaimana. Karena aku sendiri sedang tersesat. Tidak tahu
jawabannya.
Ya, aku menyukainya tanpa alasan.
Bukan karena bentuk rahangnya
yang tegas atau karena bentuk tubuhnya yang tegap-tinggi sempurna. Bukan!
Entahlah. Dia juga bukan lelaki yang sangat tampan. Bukan keturunan ningrat atau berasal dari keluarga konglomerat. Dia bahkan tidak populer
dan digilai banyak perempuan. Dia hanya sederhana. Sesederhana itulah aku menyukainya.
Aku sering memperhatikannya dari
jauh. Dia memang bukan orang yang suka berbicara. Tapi dari caranya tertawa aku
tahu sesungguhnya dia tidak sedingin hujan. Mata yang begitu tajam itu selalu menyipit
lucu saat tertawa. Hangat.
Pernah sesekali kami bertemu
pandang. Kedua bola mata kami bertemu. Lama. Tatapannya seperti menyiratkan
sesuatu. Mungkinkah dia tahu?
Subscribe to:
Posts (Atom)


